Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment

INCEPTION : Petualangan Di Lapisan-Lapisan Mimpi

Sabtu kemarin sepertinya adalah hari yang padat buat saya. Setelah seharian mengikuti seminar tentang bisnis online yang deselenggarakan oleh TDA Depok, saya bersama teman-teman deBlogger akhirnya memutuskan untuk nobar film INCEPTION sebagai refreshing.

Sekitar pukul 15.00 kami berempat (saya, Om Dodi Mulyana, Madam Luvie Melati, dan Opa Bradley Marlissa) segera meluncur ke Margo Platinum XXI. Di sana telah menanti Aksa Malik Syadri untuk ikutan meramaikan pasukan nobar deBlogger kali ini. Selesai Shalat Ashar kami berlima pun memasuki bioskop melalui pintu 3 dengan perasaan berbunga-bunga.

Film ini pada awalnya sempat membuat bingung saya, Eini film apaan sih, kok rumit banget? Banyak istilah-istilah yang terasa asing dalam bahasa sehari-hari, misalnya ekstraksi, totem, inception, labirin… Oalah *tepok jidat*

Dari bocoran yang saya terima dari seseorang yang tidak bertanggung jawab *melirik Dhodie*, film ini merupakan science fiction yang agak membuat jidat berkerut ketika kita menontonnya. Karenanya saya sudah menyiapkan diri dan mental untuk konsentrasi penuh ketika menontonnya. Setidaknya tidak ada waktu untuk ngobrol, sms-an, isengin bangku sebelah, mampir ke toilet, apalagi untuk tidur hehehe.
Benar, film ini mengalir dengan cepat. Perpindahan dari adegan ke adegan lain dengan situasi yang berbeda-beda sempat membuat bingung dan kehilangan jati diri runutan jalan cerita. Apalagi saya yang memang belum membaca sinopsis ceritanya sama sekali.
Kita dihadapkan pada sesosok bernama Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) yang ternyata adalah seorang ekstraktor. Ekstraktor merupakan sebutan untuk seorang yang berprofesi sebagai “pencuri ide” dari pikiran orang lain. Uniknya proses pencurian ini bukan dilakukan dengan cara mengambilnya dari brankas atau lemari rahasia, bukan juga sebuah data komputer yang diproteksi oleh sandi yang super rumit dan lainnya, inilah uniknya, pencurian ide ini ternyata dilakukan melalui “alam mimpi”.
Dengan teknologi yang “terlihat” sederhana, karena hanya berupa koper dengan tombol dan kabel-kabel, kita dapat memasuki alam mimpi orang lain dengan begitu mudahnya. Tak hanya sekedar menjadi bayangan yang tidak terlihat, di alam mimpi ini kita adalah juga sosok nyata yang dapat berbuat sesuatu di sana. Jadi kita bisa mengacak-acak alam mimpi si empunya. Nah karenanya proses pencurian ide ini pun bisa dilakukan.

Visualisasi ide itu sendiri bisa bermacam-macam, seperti contohnya dalam adegan pencurian ide oleh Cobb terhadap seorang pengusaha Jepang bernama Saito (Ken Watanabe), digambarkan di sana bahwa ide yang hendak dicuri berupa secarik kertas dalam amplop yang disimpan dalam sebuah lemari brankas bersandi.
Misi pencurian ide tadi ternyata gagal dieksekusi oleh Cobb dan timnya, alih-alih mencuri ide dari Saito, Cobb dan tim malah akhirnya berbalik disewa oleh Saito untuk suatu tugas yang agak bertentangan dengan yang selama ini dia dan timnya lakukan, bukan mencuri ide melainkan “menanamkan ide” (inception). Saito menginginkan Cobb dan timnya menanamkan ide kepada pewaris pesaing bisnisnya bahwa ia harus menghancurkan sendiri warisan kerajaan bisnis dari sang ayah.
Teman-teman Cobb menganggap hal ini mustahil dan sulit dilakukan, semula mereka menolak tugas ini, namun Cobb bersikeras menyanggupi proyek Saito ini, Cobb menjamin bahwa proyek ini akan sanggup mereka lakukan. Cobb sangat meyakini hal ini, keyakinan itu begitu kuat. Ada sesuatu yang tertutup rapat di benak Cobb dan teman-teman di timnya tidak mengetahui hal tersebut.
Rahasia Cobb inilah yang mengakibatkan ia selalu dihantui oleh bayangan istrinya yang telah meninggal dalam setiap mimpi-mimpinya. Tiada yang tahu bahwa ide “menanamkan pikiran” (inception) ini telah ia lakukan kepada istrinya sendiri yang akhirnya menjadi korban. Kegilaan Cobb ini bahkan menjadikan ia sebagai tertuduh atas kematian istrinya sendiri. Perasaan penyesalan inilah yang tak pernah lepas menggayuti pikiran Cobb.
Project Saito ini membutuhkan tim yang spesial. Proses perekrutan pun dilakukan Cobb untuk mencari tim yang terbaik. Terpilih seorang arsitek muda nan cantik dan cerdas Ariadne (Ellen Page), seorang ahli penyamar Eames (Tom Hardy), dan ahli kimia Yusuf (Dileep Rao). Tim ini masih bersama dengan Arthur (Joseph Gordon Levitt) yang selama ini setia menemani Cobb dengan project-project pencurian ide.
Sang pewaris, Robert Fischer, Jr (Cillian Murphy) tak disangka memiliki pertahanan alam bawah sadar yang luar biasa tangguh. Cobb dan tim bersama Saito langsung dibombardir pasukan keamanan alam bawah sadar Robert. Peristiwa ini bahkan membuat Saito tertembak. Kenyataannya kini mereka terperangkap dalam bagian pembuangan di alam mimpi Robert.
Awal yang kurang baik ini sempat membuat semangat seluruh tim langsung drop. Ariadne selalu tampil di saat yang genting dengan ide-ide cerdasnya, setidaknya mampu mengembalikan semangat dan harapan seluruh tim. Robert kemudian diyakinkan bahwa ia tengah diculik bersama dengan pamannya. Skenario diatur seolah sang penculik menginginkan nomor pin untuk kotak besi yang berisi warisan bagi Robert.
Sosok Ariadne begitu istimewa dalam film ini. Ide-idenya yang cerdas serta rasa ingin tahunya yang begitu tinggi bahkan berhasil membongkar rahasia terkelam Cobb. Dia banyak memberikan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi tim. Bahkan masalah Cobb dengan bayangan istrinya yang selalu menghantui setiap gerak langkah Cobb.
Ok, kembali ke project. Tim pun mulai bergerak membuat lapisan kedua dari mimpi Robert. Lapisan kedua ini memiliki misi memperkenalkan Cobb sebagai tentara alam bawah sadar milik Robert. Cobb ingin mengalihkan kepercayaan Robert kepada dirinya atas kehadiran tentara sebenarnya milik Robert yang selalu muncul memborbardir mereka.
Untuk misi selanjutnya, dibuatlah lapisan mimpi yang ketiga. Di sinilah diharapkan Robert mampu membuka kotak brankas milik ayahnya yang seolah adalah warisan untuk dirinya. Target kali ini adalah sesuai dengan tujuan utama yaitu ingin menanamkan ide bahwa isi brankas besi tersebut adalah warisan dari sang ayah yang harus dilaksanakan oleh Robert sebagai pewarisnya.
Bermain dalam lapisan-lapisan mimpi membuat film ini sedemikian seru. Begitu banyak detail dan petunjuk ditampilkan baik secara visual maupun verbal dalam setiap adegannya. Karenanya untuk dapat memahami film ini dengan baik agak susah bagi kita untuk bahkan sekedar berkedip *lebay mode*

Visualisasi film ini sangat mendukung jalannya cerita serta memudahkan penonton untuk memahami ide-ide dalam film ini. Sebut saja bagaimana mudahnya sosok Ariadne mengubah arsitektur dalam alam mimpinya sekehendak hatinya. Penggambaran fungsi “totem” (penanda mimpi) yang semula kita abaikan pun disajikan secara lugas namun elegan. Arsitektur mimpi yang dapat dibuat bertingkat sesuai dengan tingkat kedalamannya dalam pikiran pun tergambar jelas dalam bentuk lift dalam adegan ketika Ariadne mencoba lancang memasuki mimpi Cobb.
Sutradara Christopher Nolan lagi-lagi memukau kita dengan pesona sisi gelap sebuah film. Sebelumnya ia telah berhasil dengan “Memento”, “The Prestige”, dan “The Dark Night”.
Sebagaimana The Matrix, di sini kita juga bermain-main dengan alam lain dalam diri kita. Dunia yang sebenarnya ada dalam diri kita. Inception mengingatkan kita bahwa mimpi pun memiliki sebuah kekuatan yang dahsyat, yang mampu mempengaruhi kehidupan sadar kita.
Apakah esok pagi kita terbangun dalam arti yang sesungguhnya dari mimpi kita? Atau kita hanya berpindah dari mimpi lapis terdalam kita menuju ke mimpi lapisan yang lebih luar saja? Yakinkah jika kita memang tengah hidup dalam mimpi kita sendiri bukan mimpi orang lain? Coba lihat “totem” kita untuk meyakinkannya 😛
Apa pun jenis fiksi yang ditampilkan dalam sebuah film, semoga kita selalu bisa menangkap sisi positifnya bagi kehidupan kita. Atau kalau nggak mau susah ya just watch for fun… walau pun sebenarnya sih sayang juga, sebab begitu banyak pesan dan hikmah yang terserak jika kita ingin menguntainya dalam benang pikiran kita.
Sumber Foto :
Posted in Sinema | 22 Comments

Berhenti Sejenak…

Ada kalanya

letih mendera
tenaga tak ada lagi tersisa
mau tak mau kau harus menghentikan langkahmu… sementara
Hingga tiba waktunya
Sekalipun tak terasa lelah
tetap kau harus melewati halte peristirahatan
Ada hak tubuhmu, akalmu, dan jiwamu
Dan jika saatnya tiba
bukan karena malas
ya sejenak tuk kembali mengasah kapakmu
mengisi selongsong pelurumu
mengisi tanki bahan bakarmu
mengisi hati dengan imanmu
Jangan malu kawan
berhenti sejenak bukanlah kelemahan
ia bahkan untuk menguatkan jalanmu ke depan
Posted in Poem | 14 Comments

Gala Premier Film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta

Beruntung sekali saya mendapat kesempatan untuk mengikuti acara gala premiere (GP) Film Tiga Hati Dua Dunia Satu Cinta semalam, 29 Juni 2010 yang bertempat di Planet Hollywood 21. Ini adalah film ke-5 karya MIZAN production setelah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Garuda di Dadaku, dan Emak Ingin Naik Haji. Ramai sekali acara semalam karena dihadiri undangan dari pelbagai kalangan, terutama kalangan wartawan.

Film Tiga Hati, Dua Dunia, Satu Cinta diadaptasi dari dua novel karya Ben Sohib yang telah menjadi bestseller berjudul Da Peci Code dan Rosid dan Delia. Kedua buku ini juga diterbitkan ulang oleh Penerbit Bentang (salah satu penerbit dalam Mizan Group) dengan judul Hikayat the Da Peci Code dan Balada Rosid dan Delia. Dan saya belum baca novelnya hehehe.

Tiba di lokasi sekitar pukul 20.30 saya langsung menghubungi Ibu Ollin dari pihak MIZAN production, dari beliulah saya mewakili MataSinema berkesempatan ikutan hadir di acara ini. Saya pun menghubungi Ibu Ollin via hp dan akhirnya bertemu dengan beliau. Wah ternyata Ibu Ollin ini masih muda, jadi panggilan untuknya kini berubah menjadi Mba Ollin hehehe .

Setelah mendapatkan tiket dari Mba Ollin saya bergegas menukarkannya dengan goodie bag di meja registrasi. Wah keren lho ternyata isi goodie bagnya, ada 2 buah CD, yang pertama CD OST Film Tiga Hati Dua Dunia Satu Cinta dan CD 2 memuat press kit yang berisi foto-foto dan berita mengenai film ini. Selain itu ada kaos keren dan sebuah poster film ini.

Beranjak dari meja registrasi saya bertemu dengan Mas Andrea Hirata, wah senangnya (yahoo) . Di kesempatan langka ini saya usil bertanya tentang tokoh Arai di film selanjutnya akan diperankan oleh siapa? Seperti kita ketahui pemeran tokoh ini tengah tersandung sebuah kasus asusila. Mas Andrea malah menyatakan bahwa saya aja yang menggantikan dan menjadi pemain tokoh Arai *uhuk-uhuk*.

Di sebelah saya ketika berbincang dengan Mas Andrea tampak para jurnalis media elektronik tengah mewawancarai beberapa pemain di film ini. Saat itu yang saya lihat adalah Laura Basuki (pemeran Adelia) dan Arumi Bachsin (pemeran Nabila). Keduanya memang terlihat sangat menawan di malam itu, apalagi Arumi yang nampak anggun dalam balutan jilbab.

Saya baru ingat kamera digital yang sudah saya persiapkan sejak sore ternyata tertinggal di rumah *tepok jidat*. Niat hati untuk mengabadikan momen-momen berharga di malam ini kandas sudah.

Ternyata banyak juga yang diundang malam ini. Studio 1 dan studio 3 di Planet Hollywood diperuntukkan khusus untuk acara GP ini. Terlihat sosok-sosok terkenal mulai berdatangan satu per satu, semisal Bung Adyaksa Dault mantan Menpora, Mohammad Assegaff sang pengacara kondang yang ternyata turut jadi pemain di film ini, dan ada juga Bang Deddy Mizwar. Wah kesempatan yang langka bisa kertemu dengan beliau. Saya salah satu fans berat beliau lho 🙂

Yang agak unik pemandangan di malam itu kok banyak sekali yang berpenampilan keturunan timur tengah di sini, hmmm kok tumben ya di acara GP seperti ini? *bertanya-tanya*

Singkat cerita akhirnya pintu theatre pun dibuka. Semua undangan masuk dengan tertib. Sebagaimana acara GP lainnya pada tiket masuk tidak dicantumkan nomor kursi, jadi siapa yang lebih cepat akan mendapatkan posisi yang lebih enak . Saya pun menemukan tempat yang nyaman, yaitu 3 baris dari belakang.

Lima menit sebelum film diputar pihak MIZAN production memberikan sambutan singkat tentang film ini. Seluruh pemain dan kru yang terlibat di sini juga diperkenalkan satu per satu. Pak Putu mengingatkan seluruh yang hadir agar sepulang menonton film ini jangan lupa meng up date status di FB, twitter dan jejaring sosial lainnya. Beliau juga menambahkan bahwa untuk sementara lupakan dulu tentang piala dunia (haha) .

Dan film pun mulailah diputar…

MataSinema telah membuat review film ini, coba deh klik Film Tiga Hati Dua Dunia Satu Cinta : Jembatan Cinta 3 Hati.

GAMBAR & TATA SUARA

Untuk tampilan gambar film ini, saya sebagai penikmat awam dapat menikmati rangkaian gambar dalam film ini dengan baik. Bahasa visual dan berbagai simbol pun dapat tersampaikan dengan lugas. Contoh visualisasi perbedaan antara Delia dan Rosid cukup manis tergambar ketika mereka sama2 hendak makan, atau kalung yang selalu dikenakan Delia jelas menunjukkan keyakinannya, atau deretan buku dan poster Rendra yang berserakan bertebaran di kamar Rosid yang dalam film ini dikisahkan sebagai penggemar berat karya-karya Rendra, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Memang tak seindah gambar dalam Denias atau pun King, tapi sudah cukup nyaman dinikmati :).

Suara jernih bisa dinikmati dengan jelas, walaupun ada beberapa kali saya temui suara dubbing sedikit meleset dari gambar yang ditampilkan namun itu tidaklah mengganggu jalan cerita. Urusan soundtrack saya acungi jempol untuk film ini, musik dan lagu yang muncul sangat pas dengan adegan yang ada. Musik ketika Delia tengah gundah berdoa di altar sangat menyentuh atau ketika Delia dan Rosid menari Zapin (tarian khas masyarakat Melayu keturunan timur tengah) di adegan penutup.

KARAKTER PEMAIN


Seperti layaknya Emak Ingin Naik Haji (EINH), karakter Rosid yang dimainkan oleh Reza Rahadian sangat kental dan mendominasi jalannya cerita. Reza tampil baik dalam film ini, tapi menurut saya pribadi sepertinya akting Reza di EINH jauh lebih total dan terasa mantap dibandingkan di sini. Mungkin memang Rosid sendiri ingin ditampilkan sebagai tokoh yang cuek, apa adanya, dan suka ceplas-ceplos sehingga terasa ringan-ringan saja *hmmm* . Tokoh Delia yang juga mendapat porsi besar dalam film ini terasa lebih bisa mengeksplore kemampuan akting pemain dan Laura Basuki cukup mampu memainkannya ini dengan cukup natural. Nabila sebagai orang ketiga dalam segitiga cinta ini amat terasa mendapatkan porsi yang secukupnya, namun Arumi Bachsin sudah dapat memerankannya dengan sangat elegan, sosok muslimah penurut dan sangat tertutup.

Porsi kedua terbesar setelah Rosid dalam mendominasi jalannya cerita di sini adalah sosok Ayah Rosid, Pak Mansyur (Rasyid Karim). Beliau mampu menghadirkan sosok seorang ayah yang sangat meledak-ledak namun lugu dan lembut hatinya. Sekalipun mudah meledak sosok ini ternyata amatlah sayang dan cinta kepada si anak. Rasyid Karim telah sukses menghidupkan sosok ini. Begitu juga dengan Henidar Amroe yang sukses menampilkan diri sebagai sosok seorang ibu yang sangat lembut dan bijak.

CERITA

Saya nggak akan membuat spoiler di sini kok, tenang aja bagi yang belum nonton hehehe.

Kisah cinta seorang pemuda muslim (Rosid) dengan seorang gadis Manado Katolik (Delia). Sebuah cerita bertema berat dan sensitif ini secara elegan tampil di film ini. Tidak ada pendeskreditan terhadap salah satu agama, semua tampil dengan anggun, menghibur, namun memberikan pelajaran yang dapat dibawa pulang bagi yang menyaksikannya.

Nabila sosok muslimah yang begitu taat kepada orangtua serta menjaga pergaulannya ternyata diam-diam memendam rasa terhadap tokoh Rosid, dan kebetulan ini didukung penuh oleh keluarga kedua belah pihak.

Segitiga cinta ini berakhir dengan indah, ketika cinta akhirnya mampu meluluhkan kekerasan hati orang tua Rosid dan Delia. Bagi pihak orang tua akhirnya lebih memilih untuk mengutamakan kebahagiaan sang anak, menembus benteng keyakinan. Lebih banyak pihak yang akhirnya bisa tersenyum bahagia di sini. Dan yang terpenting tidak ada ajaran agama apa pun yang dinodai di sini berkaitan dengan ending cerita.

BEBERAPA CATATAN

Memang tidak ada yang sempurna *tsaaahhh* demikian pula dengan film ini saya perlu membuat beberapa catatan

  1. Tokoh Rosid tampil dengan kurang utuh dan agak kontradiktif, di satu sisi dia sangat cerdas membedakan antara budaya dan ajaran agama yang menunjukkan bahwa Rosid adalah seorang anak muda yang cukup baik memahami agama. Namun di lain pihak dia seperti tidak mengetahui ajaran agama tentang pernikahan beda keyakinan. Ada kesan Rosid adalah tokoh yang hanya mengambil nilai2 agama hanya pada urusan yang dia sukai saja. Jika memang seperti ini sulit tokoh seperti ini dapat dijadikan panutan.
  2. Adegan penyerbuan sebuah LSM yang sangat identik dengan ormas Islam tertentu menurut saya sangat mengganggu atmosfer cerita. Bisa jadi ormas Islam yang merasa tersindir akan tidak suka, karena di film ini digambarkan bahwa gerakan mereka tanpa dasar (emosional) dan hanya karena faktor uang semata (bayaran).
  3. Penggambaran bahwa masyarakat Indonesia yang amat sangat percaya tahayul dan kurafat digambarkan dengan baik di sini. Bahkan seorang yang di mata masyarakat cukup baik agamanya pun masih terjebak akan hal ini.
  4. Penggambaran dari sudut pandang keluarga keturunan timur tengah mendominasi cerita ini. Karenanya tak aneh di sini banyak pemain berasal dari keturunan timur tengah 😀
“Cinta… lepaskan sayapmu bawa aku terbang jauh… lewati dua dunia”

Overall, salut untuk Mizan dengan sutradara Benni Setiawanyang dengan berani mengusung tema sensitif menjadi cerita yang penuh makna. Film ini membawa angin segar bagi perfilman di Indonesia. Teruslah maju film Indonesia!!!

Posted in Sinema | 20 Comments

miladeBlogger : Rangkaian Acara Satu Tahun Usia Komunitas Blogger Depok (deBlogger)

Posted in Komunitas | 29 Comments

Nokia C3 : Qwerty Terjangkau ber Wi-Fi

Nokia sepertinya nggak pernah kalah strategi dalam menangani semua segmen pasar yang ada. Boleh jadi di segmen atas mereka banyak kehilangan “kue pasar” karena diambil alih Blackberry dan iPhone. Begitu pula di segmen menengah, kehadiran LG dan Samsung dengan pesona qwerty dan layar sentuh yang sangat terjangkau cukup menyita lahan pasar milik mereka. Namun memang harus diakui pada segmen entry level Nokia masih menjadi raja. Kehadiran ponsel China tidak mampu menggeser Nokia di segmen ini.

Menarik untuk memperhatikan ramainya segmen menengah. Hampir semua brand besar bermain dan bertarung di sini. Namun memang harus diakui ponsel2 Korea mampu menyedot perhatian di sini. Lihat saja Samsung yang bermain cantik dengan ponsel layar sentuhnya, seperti corby, star, monte, dll. Demikian pula dengan LG yang kian ciamik dengan ponsel qwerty cantiknya, LG GW300.

Nah kini hadir Nokia C3 yang mencoba menggebrak di segmen menengah ini. Nokia tampak serius dengan pasar Indonesia karena mereka meluncurkan perdana produk ini di sini, sebagai salah satu negara dengan pengguna layanan jejaring sosial terbesar di dunia.

Nokia C3 hadir dengan fitur yang sederhana namun benar-benar mantap dan dianggap mampu memenuhi keinginan pasar di segmen ini.

Coba kita lihat keunggulan ponsel Nokia C3 yang berdisain cantik ini:

  1. Qwerty keypad yang sangat nyaman digunakan
  2. Terbuat dari material plastik berkualitas, sehingga nampak mewah dan jauh dari kesan murahan.
  3. Telah dilengkapi dengan Wi-Fi 802.11 b/g
  4. Untuk jejaring sosial seperti facebook dan twitter, Nokia menyediakannya dalam bentuk aplikasi client, bukan berbasis web browser seperti lainnya. sehingga kita bisa mengatur pesan masuk, menulis status, dan notifikasi. Bahkan mengunggah foto pun bisa dilakukan tanpa perlu repot, baik itu foto dari hasil jepretan sendiri atau memang sudah tersedia sebelumnya di handset. Kita bisa melihat update terbaru setiap 3 detik lho.
  5. Untuk layanan messaging Nokia C3 pun nggak mau ketinggalan. Yahoo Messenger, Gtalk, Windows Live, hingga Ovi Mail telah disediakan di sini. Bahkan kita pun bisa menikmati layanan push email dengan cara aktivasi yang sangat mudah. Jeda refresh push email ini bisa di atur sedemikian rupa, mulai dari 10 menit hingga setiap saat.
  6. Memori kapasitas besar, internal 55 MB dengan mendukung micro SD hingga 16 GB.
  7. Layar besar dengan kedalaman 256.000 colour 320 x 240 pixels, 2.4 inches.


Selain keunggulan pasti ada juga dong kekurangan Nokia C3 ini, apa aja ya?

  1. Kamera 2.0 megapixel dengan kualitas standar Nokia, tanpa autofokus dilengkapi dengan 4x digital zoom.
  2. Untuk urusan data hanya didukung oleh GPRS kelas 32 atau lebih dikenal dengan EDGE. Jadi belum 3G apalagi HSDPA.


Fitur standar lainnya seperti port musik 3.5 mm dan kehadirna FM radio turut melengkapi Nokia C3.

Nokia C3 akan dilepas pada kisaran harga di bawah 1.5 juta. Di pasaran saat ini harga masih berkisar 1.3 juta. Dengan fasilitas dan keunggulan di atas, harga ini cukup layak untuk Nokia C3. Jika ingin bersabar sebagaimana lazimnya produk-produk Nokia lainnya dalam 1-2 bulan harga akan turun dan stabil.

Forum yang membahas tentang produk ini rame juga lho, coba lihat di sini. Untuk spesifikasi lengkap silakan klik di sini.

Posted in Nokia | 24 Comments

Gathering deBlogger : Silaturahim & Bermain Bersama Komunitas Online

Salam… !

Buat teman-teman yang tinggal di area jabodetabek ada sebuah acara bagus nih hari ahad ini, tanggal 2 Mei 2010, yaitu acara Silaturahim dan Bermain Bersama Komunitas Online yang bertajuk COMMUNITY GATHERING bersama deBlogger.

deBlogger adalah komunitas blogger se kota Depok, dalam rangka milad pertama, mereka menggelar acara ini. Community gathering ini ditujukan untuk seluruh komunitas online yang ada, baik blogger maupun non blogger.

Ingat, acara ini terbuka dan GRATIS lho 🙂

Oh ya, jangan lupa siapkan :
1. KADO senilai minimal Rp 10.000 dibungkus kertas koran
2. Berpakaian warna hitam (kaos)
3. Membawa pakaian ganti
4. Membawa slyer

Untuk pendaftaran masih dibuka hingga hari ini (Jumat 30/04/2010). Silakan isi form pendaftaran ini.

Ayo buat teman-teman semua, ajak teman terdekat dan keluarga kamu untuk ikutan acara ini. Sampai jumpa di sana ya 😀

Posted in Komunitas | 10 Comments