Film ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)… Beberapa Catatan

Film keluaran Deddy Mizwar selalu menjadi sesuatu yang (buat saya) sangat layak untuk dinantikan. Nama Deddy Mizwar seolah menjadi garansi yang sangat jitu akan suatu hasil karya bermutu anak negeri. Tidak hanya memuat hiburan sebagaimana umumnya film Indonesia lainnya, karya-karya Deddy Mizwar juga selalu penuh dengan pencerahan dan “sesuatu” yang bisa dibawa pulang bagi para penontonnya.

Karya terbarunya adalah film berjudul ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI) yang tayang sejak 15 April lalu.

Review lengkap film ini silakan baca-baca di page resminya di facebook.

FAKTA

Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (ALNI) menandai 12 tahun kerjasama duo Deddy Mizwar-Musfar Yasin sebagai sutradara-penulis skenario.

ALNI merupakan film ke-4 dari kolaborasi mereka setelah Kiamat Sudah Dekat, Ketika, dan Nagabonar Jadi 2.

Gagasan awal ALNI mulai berkelebat di kepala Musfar Yasin sejak 9 tahun silam. ”Tapi baru 4 tahun terakhir ini diperbincangkan lebih sering, dan sekitar 16 bulan terakhir dibahas intensif,” ujar Deddy Mizwar.

Sembilan orang peraih Citra berkolaborasi dalam film ini: Slamet Raharjo, Deddy Mizwar, Reza Rahadian, Tio Pakusadewo, Rina Hassim, Aria Kusumadewa, Yudi Datau, Musfar Yasin, Zairin Zain (produser Nagabonar jadi 2)

Film ini Deddy Mizwar yang lebih mengoptimalkan sutradara pendamping (co-director) yang kali ini dipercayakan kepada Aria Kusumadewa (Sutradara terbaik FFI 2009 – IDENTITAS)

Soundtrack film ini oleh Ahmad Albar (God Bless)

PENCERAHAN DARI FILM INI

Gagalnya pendidikan di negeri dalam menghasilkan lulusan yang siap kerja dan mandiri.

Nilai-nilai budi pekerti, Pancasila, bahkan nilai agama seringkali hanya berhenti pada tataran “mengetahui dan menghapal” saja. Film ini menggambarkan begitu gamblang bagaimana seorang yang shalat (beribadah) pun masih tetap “bisa” mencuri sandal di mushalla. Mungkin demikian juga yang terjadi dengan para pencopet kelas atas yang disebut koruptor.

Tuntutan akan status sosial di masyarakat kadang jauh lebih membelenggu dan lebih kejam menghukum. Ini terutama dirasakan oleh seorang penganggur. Sebaliknya seorang calon wakil rakyat nampak memiliki citra yang jauh lebih baik sekalipun si calon tidak berkualitas.

Ketidakadilan di negeri ini telah sedemikian parah. Penggambaran film ini ketika para mantan copet cilik itu yang telah mencoba mengubah hidup dengan mengasong tetap tidak bisa tenang karena adanya ancaman kejaran petugas trantib.

Suap telah menjadi sesuatu yang amat-amat biasa di masyarakat kita. Di sini ini ditampilkan dengan kehadiran 2 oknum aparat yang ternyata menjadi backing para pencopet.

NILAI PLUS FILM INI

Para pemainnya nggak diragukan lagi, bahkan para pemain baru yang terlibat pun mampu menghidupkan karakter masing-masing peran dengan begitu natural dan luwes

Kualitas gambar yang ditampilkan keren banget. Nggak seperti film-film Deddy Mizwar sebelumnya yang kurang menarik dalam pengambilan gambar, kali ini sungguh bisa diacungi jempol.

Dialog-dialog yang sangat ringan namun aktual dan menyindir kondisi bangsa ini, misalnya ada dialog pemain gaple yang menyebutkan cicak, buaya, dan gurita. Ada juga pertanyaan menyindir tentang siapa yang berhak menentukan halal dan haram dll.

Tentang gagalnya pendidikan sangat terasa menohok pada dialog Muluk kepada Syamsul sebagai berikut : “Itulah manfaat pendidikan Sul, melalui pendidikan kamu jadi tahu bahwa pendidikan itu nggak ada manfaatnya”. Menurut perkataan ini sungguh-sungguh dalam dan luas maknanya.

Adegan yang sangat menyentuh buat saya ketika Muluk akhirnya merelakan diri ditangkap oleh petugas trantib untuk menggantikan teman-temannya pengasong, wah adegan ini dapet banget. Selain itu ketika Pak Haji Rahmat dan Pak Makbul beristigfar di mushalla juga sangat menyentuh

Trik dan tips mencopet secara detail dipaparkan dan divisualisasikan dengan gamblang di film ini. Wah nggak nyangka ya mencopet itu benar-benar membutuhkan team work yang solid, keahlian, dan kekompakan hehehe

Soundtracknya terasa pas dengan adegan yang tengah berlangsung, baik warna musik dan syairnya.

KEKURANGAN

Buat saya sangat sulit untuk menemukan kekurangan dalam film ini. Semua begitu real dan sangat bisa dinikmati. Malah hampir mendekati sempurna🙂

Cuma ada satu kesan yang saya tangkap di sini, bahwa kenapa film ini seolah mengesampingkan pilihan untuk wira usaha selain bekerja. Di sini terkesan wira usaha adalah sesuatu yang agak kurang terhormat. Dicontohkan pilihan berwira usaha tokoh Muluk jatuh pada beternak cacing yang jelas kalah menarik dengan pilihan lainnya. Padahal ada beberapa peluang berwira usaha yang ditampilkan, seperti membuka kios baju dan membuka usaha cetak/sablon.

Overall dari saya film ini mendapat nilai 9.9 (skala 10). Begitu banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari film berdurasi sekitar 105 menit ini. Jadi buat yang belum menyaksikan, film ini sangat-sangat saya rekomendasikan untuk ditonton🙂

Pasal 33 UUD 1945
Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

Judul Film: Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Produser Eksekutif: Giselawati Wiranegara
Produser: Zairin Zain
Sutradara: Deddy Mizwar
Sutradara pendamping (co-director): Aria Kusumadewa
Director of Photography: Yudi Datau
Penulis skenario: Musfar Yasin
Pemeran: Reza Rahadian, Tika Bravani, Asrul Dahlan, Deddy Mizwar, Slamet Raharjo, Jaja Miharja, Tio Pakusadewo, Rina Hassim.
Produksi: Citra Sinema, 2010

foto: Amiruddin/Citra Sinema
Halaman facebook film ALNI

This entry was posted in Sinema. Bookmark the permalink.

19 Responses to Film ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)… Beberapa Catatan

  1. sibaho way says:

    resensi yang bagus kang… belum nonton nih, nanti deh pas pulang ke tengah keluarga, nobar…

  2. Iman says:

    @Sibaho, ayo ayo nonton. Sangat direkomendasikan nontonnya bareng keluarga. banyak pelajaran yg bisa dipetik bro🙂

  3. iLLa says:

    akhirnya posting juga, kirain mw nunggu sampe diputer di tivi setaun kedepan *dipentung*😀

    Soal kualitas gambar yg lebih baik dari film sebelumnya, hmm… memang yg dulu2 kurang menarik ya? Gak merhatiin juga sih, soalnya kalo cerita dan pesan dari film itu udah dapet banget, persoalan teknis memang ga jadi masalah lagi. *just my thought

    jadi pengen nonton lagi…

  4. taftazani says:

    belum liat tuh film niy… (lonely)
    so I have no idea for that movie. Hehehe…

  5. Iman says:

    @iLLa, soal kualitas gambar coba deh bandingin dengan film2 Deddy Mizwar sebelumnya, seperti Ketika, Kiamat Sudah Dekat, dan Ketika. Kualitas standar banget menurut saya. Nggak ada view2 yang indah dan menarik mata.

    Untuk NagaBonar Jadi 2 udah ada perbaikan walaupun masih belum terlalu bagus. Berbeda dengan ALNI yang menampilkan banyak gambar-gambar indah dengan sudut pandang yang unik dan menarik. Kayaknya gitu sih hehehe

  6. Iman says:

    @Iqbal, buruan nonton. Dijamin nggak nyesel deh. Kapan lagi nonton film dengan pemain 70% adalah anak jalanan asli🙂

  7. mayasari says:

    belum nonton sih, dan memang gak kepengen nonton. Karena memang saya bukan pecinta film bioskop. hehehhe…
    But mbaca resensi ALNI di blog nya opa ini, saya cukup memahami apa dan bagaimana film ini. Recomended lah untuk pecinta film indonesia…

    Keep Blogging ajalah, opa….😀

  8. Pojok Pradna says:

    lucunya..kadang pelem yg diputar di bioskop sini barenagan sama keluar VCD/DVD aslinya (geleng_geleng)

  9. addiehf says:

    jadi pengen nonton neeh (okok)

  10. saya udah liat film ini mas Iman, beberapa adegannya cukup ngebuat saya geram, marah, esal, tapi ga tau untuk siapa. Saya malu sama diri sendiri pastinya.

    saya suka waktu adegan satpol PP ngejar-ngejar pedagang asongan, kemudian dihalang-halangi oleh tokoh utama di film ini, dan di situ dialognya kuat banget dan sangat membekas di hati saya, “kenapa kalian (satpol PP) merasa terusik dengan orang miskin? seharusnya kalian terusik dengan yang memiskinkan kita semua.” JEGER!!!! saking kuatnya dialog ini, saya kaya kesamber gledek pokoknya. ha ha.

    Mas, ulas film Bebek Belur & Ghostwriter juga ya… Saya rekomendasiin film itu buat semua pengunjung blognya mas Iman juga😀

  11. Haqeem says:

    oiya jadi inget, pas lagi wawancara sama SCTV dompetnya si pembaca acara (David Silahoy) bener2 dicopet sama salah satu pemeran ALNI *lmao*
    hmmm… jadi tambah pengen nonton nih!

  12. Iman says:

    @Mba May, untuk tontonan keluarga ini top banget Mba. jamin deh *maksa dot com* hehehe

    @Pradna, itulah negeri kita. Urusan bajak-mebajak kayaknya kita nomor satu deh😀

  13. Iman says:

    @Kang Addie, nonton atuh. Kan udah tayang serentak di seluruh Indonesia🙂

    @Handika, film Bebek Belur dan Ghostwritter itu bagus ya? Saya belum nonton nih hehehe.

    @Haqeem, yang bener nih? (woot) Seru banget ya hihihi, sayang ane nggak nonton tuh yang di SCTV (doh)

  14. WAW…sangat direkomendasikan ya mas? Aku sampe hari ini belum tergerak untuk nonton film ini, mungkin krn kurang info juga jadi belum tertarik.

    baiklaahh…mulai browsing2 lg tentang film ini😀

  15. Piecha says:

    pas banget nih, baru kemarin diajakin nonton ini, eh dah ada resensinya di marih.. top deh, yak dilanjut..

  16. iRma_Dee says:

    nunggu ada yang ngajak,soalnya kalo nonton sendiri pasti basi😀 banget,banyak yang bilang juga ini film ratenya bintang 5..

  17. Ambon Kaart says:

    wowww, jadi pengen nonton. thanks reviewnya🙂

  18. dillah says:

    Kira-kira film Alangkah Lucunya Negeri Ini terinspirasi dari Negeri Mana om deddy mizwar nya…^_^ (Salam kenal)

  19. dhani says:

    ijinkan aku mengkopi Om..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s